Rabu, 03 Juli 2013

teknik penulisan berita



TEKNIK PENULISAN BERITA

TEKNIK PENULISAN BERITA

Dalam sebuah surat kabar dikenal ada: berita, feature, tajuk, pojok, kolom, surat pembaca, iklan. Biasanya ada pula fiksi, karikatur, foto- foto. Berita dan feature adalah fakta, pojok dan tajuk adalah opini dari pengasuh koran, kolom dan surat pembaca adalah oponi dari luar, iklan adalah sumber duit untuk penerbitan, sedangkan fiksi adalah karangan yang fiktif, bisa sebagai cerita sambung, cerpen dan sebagainya.
Pengertian Berita
    Banyak pakar komunikasi memberikan pengertian berita, seperti :
Nothclife, menekankan pengertian berita pada unsur keanehan, atau ketidaklaziman sehingga mampu menarik perhatian dan rasa ingin tahu.
Charnley, Mitchell, berita adalah segala sesuatu yang hangat atau aktual dan menarik perhatian sejumlah orang.
Chilton R. Rush, berita haruslah memberikan kepuasan atau rangsangan informasi terhadap sejumlah orang pembaca.
    Tidak semuah berita dapat dipublikasikan (layak muat), untuk dapat dipublikasikan sebuah berita haruslah memenuhi karateristik yang dikenal dengan nilai- nilai berita. Nilai berita digunakan untuk mengukur layak tidaknya suatu tulisan diangkat menjadi berita. Semakin tinggi nilai berita yang dikandung dalam sebuah peristiwa semakin kuat peristiwa tersebut dianggkat sebagai berita. Sebaliknya semakin rendah nilai beritanya semakin rendah pula peristiwa tersebut dianggkat sebagai berita. Masing- masing pakar jurnalistik memiliki karateristik tersendiri mengenai nilai berita, menurut Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya Jurnalistik Praktis Untuk Pemula, menyebutkan ada empat nilai berita yaitu :
Cepat, yaitu aktual atau ketepatan waktu. Berita adalah sesuatu yang baru (new)
Nyata, yaitu informasi tentang sebuah fakta (fact) yang terdiri dari kejadian nyata, pendapat, dan pernyatan sumber berita.
Penting, yaitu menyangkut kepentingan orang banyak.
menarik, yaitu mengundang orang untuk membaca berita yang kita tulis.
Agus Wahyudi seorang Wartawan Harian Suara Merdeka biro Banyumas dalam diklat jurnalistik tingkat dasar mahasiswa se- Jateng dan DIY 2004, suatu peristiwa bisa menjadi berita kalau mempunyai nilai berita yant terdiri dari :
Dekat dengan kalayak
Berpengaruh terhadap hidup orang banyak atau dampak dari peristiwa itu ke masyarakat
Melibatkan orang- orang terkenal atau ketokohan orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Menyangkut angka statistik
Menyangkut hal- hal luar biasa atau hal biata tetapi menumbuhkan rasa simpati, empati, iba, menggugah
Yang jelas harus aktual dan baru terjadi
 Unsur- Unsur Berita
    Dalam penulisan berita maupun feature agar tercipta berita yang lengkap haruslah memenuhi unsur- unsur pokok berita, yang dikenal dengan 5W+1H;
What = apa yang terjadi
Where = dimana hal itu terjadi
When = kapan peristiwa itu terjadi
Who = siapa yang terlibat dalam kejadian itu
Why = kenapa hal itu terjadi
How = bagaimana peristiwa itu terjadi
Suatu berita memiliki struktur berita yang terdiri dari,
1.    Judul (head)
2.    Dateline
3.    Teras berita (Lead)
4.    Isi berita (Body)
1)    Judul Berita/ kepala berita (head news)
    Penulisa judul dalam berita merupakan hal yang penting karena memiliki fungsi untuk memberikan identitas, mempermudah pembaca, dan menarik perhatian pembaca.
2)    Dateline, yakni tempat atau waktu berita diperoleh dan disusun. Contoh: Jakarta, Kompas; Jakarta: Republika, Senin
3)    Teras Berita (lead)
    Teras berita adalah bagian berita yang terletak dialinea atau paragraf pertama sampai kedua, lead yang bagus tidak lebih dari 30 sampai 35 kata atau tiga barisan ketikan. Usahakan lead yang “bicara”, jangan terlalu panjang kalau bisa pendek dan sudah merangkum 5W+1H, umumnya lead disusun dalam bentuk:
Summary Lead atau Conclusion Lead: Teras berita yang menyimpulkan dan dipadatkan
Contoh: Kepala Negara mengisi hari liburnya dengan kegiatan santai di Kebun Raya dan Taman Safari Bogor, Minggu (14/12)
Statement Lead: Teras berita berupa pernyataan
Contoh: Kapolri menegaskan, pihaknya akan mengusut tuntas kasus Udin hingga pembunuhnya tertanggkap
Quotation Lead: Teras berita kutipan
Contoh: “Penyebaran isu menyesatkan harus diusut dan dihukum.” Demikian dikatakan Kepala Negara, kemarin, menanggapi munculnya isu- isu yang meresahkan masyarakat belakangan ini.
Contrast Lead: Teras berita kontras
Contoh: Bogor, yang berjulukan kota hujan, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir ini dilanda kemarau. Warga kesulitan mendapatkan air bersih.
Exclamation Lead: Teras berita yang menjerit
Contoh: “Tidak…” demikian teriakan histeris terdakwa AP, mendengan putusan hakim yang memvonisnya dengan hukuman penjara seumur hidup.
Lead pasak (Peg): cari penyebab dari peristiwa atau kejadiannya
Lead Epigram: memasukan ungkapan atau rumusan yang akrab di masyarakat.
Lead diskriptif: menggambarkan secara runtut tapi cari yang sensasional atau luar biasa atau istilah yang umum dikenal.
Contoh: “Gedung pencakar langit di Jalan Imam…..Jakarta kemarin runtuh setelah dihantam pesawat Boing..dalam waktu lima menit….
Bentuk dan Jenis Susunan Berita
Bentuk susunan berita :
Bentuk Piramida terbalik; dalam penulisan berita dimulai atau diawali dari berita yang dianggap paling penting, setelah itu diikuti hal- hal yang kurang penting. Bentuk ini sering dipakai untuk menulis berita- berita langsung (straight news). Bagian paling penting dituangkan dalam lead atau alinea pertama berita
Bentuk Piramida tegak; penulisan berita diawali dari hal- hal yang kurang penting, kemudian diikuti kehal- hal yang makin lama makin penting.
Bentuk Pararel; penulisan berita ini antara alinea- alinea awal, pertengahan hingga akhir dianggap memiliki bobot yang tidak jauh berbeda.
Bentuk Kronologis; penulisan bentuk ini memaparkan data- data atau informasi secara berurutan. Antara alinea awal, pertengahan sampai akhir berita merupakan proses waktu atau peristiwa yang sulit untuk dipisahkan.
Dalam jurnalistik ada tiga macam tulisan yang biasanya dipakai media massa yaitu :
Straight News : berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas dan padat akan unsur 5W+1H pada lead dan menggunakan piramida terbalik.
Feature : berita yang disajikan dalam bentuk yang ringan yang rekreatif, santai bahkan humanitif. Tulisan ini dimaksudkan untuk membuat senang atau menggugah simpatik pembaca dari suatu kejadian yang menyangkut aspek kehidupan. Feature merupakan karangan khas dengan menggunakan fakta, data yang dituangkan dalam tulisan berbentuk kisah. Menulis feature menggunakan bahasa bertutur, menceritakan dan memaparkan suasana mulai dari suasana kejadian, suasana yang sudah terjadi sampai pada suasana hanyut.
Laporan : berita yang ditulis secara detail dengan model Investigation News dan biasanya untuk kasus- kasus tidak tercover dalam straight news dan hard news. Keunggulan tulisan ada pada utuhnya persoalan yang ditampilkan, detail data yang disajikan, sudut pandang yang ditawarkan bahkan sisi- sisi yang sebelumnya belum terunggkap. Daya tarik laporan adalah data lengkap, runtut, dan format tulisan enak dibaca karena berdasarkan investigasi yang menyeluruh dan detail dari sang reporter..
Langkah- Langkah Penulisan
Hal- hal yang harus diperhatikan dalam penulisan berita
Obyektif, seorang wartawan harus menjaga jarak dengan peroistiwa yang diangkatnya sebagai berita, dengan demikian seorang wartawan dilarang melibatkan kepentingan pribadi dan pandangan subyektif atas peristiwa. Namun tulisan harus faktual atau dituliskan berdasarkan fakta dan data yang benar- benar ditemukan dilapangan.
Cover both side, tulisan harus seimbang dan berusaha mencantumkan semua pihak yang terlibat dalam peristiwa.
Prinsip hemat kata, prinsip dasar komunikasi menghendaki agar komunikasi berjalan dengan cepat dan jelas, dalam waktu dan ruang yang relatif terbatas, selain itu perhatikan penggunaan bahasa yang hemat dan maksud serta inti dari tulisan bisa dipahami. Hal ini agar berita efisien dan efektif, baik dari pemilihan diksi, membentuk kalimat, penyusunan alinea, hingga membentuk plot seefektif mungkin, yang terpenting dalam penulisan berita adalah pembaca mudah mencerna informasi yang disampaikan..
Berita harus menggandung unsur 5W+1H, artinya dalam berita harus dijelaskan peristiwa apa yang ditulis, siapa saja yang terkait, kapan itu terjadi, dimana terjadinya dan bagaimana rangkaian peristiwa tersebut.
Sebuah berita harus ditulis dalam piramida terbalik . Dalam pola ini maka data yang paling pentingt harus diletakan dialinea- alinea pertama. Dengan demikian semakin atas letak alinea, semakin penting pula data yang dikandungnya, alinea pertama yamg disebut dengan lead merupakan alinea terpenting. Sebab dalam lead inilah termuat angel(sudut bidik), berita dan inti yang dipaparkan.
Proses atau tahap menulis atau menyusun berita;
Fact Organizing
Yaitu pengorganisasian/ pengumpulan fakta oleh wartawan yamg akan menulis berita.Apakah itu hasil interview, kejadian langsung, ataupun menggunakan data- data tertulis yang telah tersedia.
Lead Decission
Yaitu penentuan lead untuk teras berita. Ingat, gagal menentukan lead, bisa berarti gagal menulis berita
Word Selection
Yaitu pemilihan kata- kata yang cocok, untuk mendukung penulisan berita, usahakan alur yang runtut, jangan melompat- lompat sehingga dapat mengganggu pemahaman pembaca.
Start To Write
Ambil mesin ketik atau komputer, kertas, jika perlu referensi pendukung. Konsentrasilah dalam menulis sehingga tidak keliru.

    Mungkin ini sedikit pemaparan singkat mengenai seklumit teknis penulisan dan jenis berita, seringlah membaca karena akan menambah wawasan dan mempermudah kita untuk menulis. Ingatlah sebanyak apapun teori yang kita kuasai dalam jurnalistik tidak akan banyak berarti jika tanpa latihan, karena kemampuan menulis bisa diasah melalui kebiasaan- kebiasaan.



Sumber tulisan :
Trisno Suhito; Wartawan Radar Banyumas, disampaikan pada Diklat Jurnalistik LPM Oyod Suket, (4/12), Baturaden Purwokerto
Syamsul Asep M. Romli, S.IP, Jurnalistik Praktis Untuk Pemula, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.
Widodo, Drs, Menulis Berita di Surat Kabar dan Majalah, Indah , Surabaya, 1997.
Agus Wahyudi seorang Wartawan Harian Suara Merdeka biro Banyumas dalam diklat jurnalistik tingkat dasar mahasiswa se- Jateng dan DIY 2004

Komunikasi visual



Iklan dan Media Cetak

MENGENAL JAGAT DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

Sebelum ditemukan mesin cetak, penyebaran informasi dilakukan dengan cara bahasa lisan dan berteriak teriak sambil membunyikan alat (gong) dari satu tempat ke tempat lainnya.
Di Indonesia sistem percetakan mulai dikenal  sekitar tahun 1596, Sebuah pendapat mengatakan, iklan mulai merambah nusantara pada abad ke 16, bersamaan dengan kegiatan perdagangan orang-orang eropa di Indonesia.
Menurut Bedjo Riyanto,iklan pertama kali muncul di Indonesia pada 7 Agustus 1744 di batavia, bersamaan dengan terbitnya surat  kabar Bataviaasche Nouvelles milik VOC.
Desain Komunikasi Visual ( DKV),memiliki peran mengkomunikasikan pesan atau informasi kepada pembaca dengan berbagai kekuatan visual, seperti tipografi, ilustrasi, warna, garis, layout,dan sebagainya dengan bantuan teknologi.

Tugas utama desain grafis:
- Menyampaikan informasi atau pesan-pesan dari pemberi order(klien) kepada sasaran pembaca yang di tuju (target audiens).
- Untuk  menyampaikan pesan dari klien desainer perlu menggunakan elemen-elemen visual seperti: Huruf, Garis, Warna, Gambar, Bidang yg disusun semenarik mungkin.
- Desain yang komunikatif dan menyenangkan dapat diwujudkan dengan bantuan: Ilustrator, Fotografer, Visualizer, Kartunis, Pelukis, Layouter, Kaligrafer, Tipografer, Penulis naskah( copywriter).

BAB 5
IKLAN DAN MEDIA CETAK

-Iklan dapat diartikan menyerukan informasi atau membuat audiens berpalin memperhatikan pesan.
-Iklan adalah pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kpada masyarakat lewat suatu media. (Rhenald kasali)
-Dalam pembuatan iklan, Art director bertanggung jawab membuat keputusan seni atau desain, seangkan copywriter bertugas menyiapkan naskah atau teks iklan.
-Sebagaian besar iklan cetak memuat dua elemen, Visual (seni rupa) dan Verbal (naskah)

Unsur-Unsur Naskah Iklan Media Cetak
1.Headline (kpala tulisan) ? pesan verbal yang paling ditonjolkan, yang diharapkan utk dibaca pertama kali oleh audiens. Posisinya dimana saja, tidak selalu diatas.
2.Subheadline (subjudul) ? kalimat penjela atau kelanjutan dari headline.
3.Bodycopy (bodytext) ? teks yang menguraikan informasi produk lebih detail, agar dapat menarik pembaca utk membeli produk yang diiklankan.
4.Tagline (slogan) ? kalimat pendek yang menyerukan spirit, kulaitas, dan keunggulan produk.
5.Baseline ? bagian pentup dari Iklan.
6.Product shot ? foto produk atau brand yang ditawarkan.
7.Unsur tambahan
•Flash : perkataan pendek yang ditonjolkan secara khusus. Ex: sale, new, discount dll.
•Kupon, dipakai utk mendapatkan respon atau tanggpan secara lansung dari konsumen.

Komponen Iklan
1.Strategi iklan ? diberikan oleh pihak klien kpda tim kreatif, menjelaskan tentang target audience, keunggulan produk, dll
2.Konsep iklan : penjabaran dari strategi kreatif. Merupakan solusi konsep desain komunikasi visual.
3.Desain : penampilan visual secara menyeluruh dari iklan.
4.Naskah : bagian verbal dari iklan yang mengekspresikan konsep bersama dg visual.
?

Naskah Iklan Terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
1.Headline ? menggunakan huruf paling besar dan mencolok.
•Identification Headline, langsung menyebutkan identitas, merek. Ex: NOKIA. Connecting people.
•Advice or benefit Headline, memberikan nasihat, manfaat den kelebihan produk. Ex: ayo kita perbaiki! Sebelum berlubang (pepsodent).
•Informasi or News headline, berisi berita atau informasi suatu produk. Ex: tiada lagi low batt dg tenaga matahari (Samsung E1107)
•Selective headline, penawaran kpada konsumen khusus yang menjadi target pasar (mis: pria, wanita dll)
•Command Headline, anjuran atau perintah kepada pembaca utk menggunakan produk yg diinginkan. Ex: beli kijang sekarang (KIJANG).
•Question Headline, gaya bertanya kpada pembaca. Ex: Ngobrol semaleman? No problem. (simpati).
•Boast Headline, melebih lebihkan keunggulan produk. Ex: terbukti rajanya bebek (HONDA).
2.Overline atau lead-in ? terletak di atas headline, dan hampir selalu menggunakan huruf lebih kecil dari headline.
3.Subheads ? sering ditempatkan dibawah headline karena merupakan penjelasan dari headline, tetapi bisa dibagian lain.
4.Bodycopy ? merupakan pesan utma iklan.
5.Caption ? bagian kecil dari iklan yang fungsinya menjelaskan gambar, penawaran khusus, dll.
6.Blurb atau Ballon ? Naskah iklan yg dibuat seakan diucapkan oleh orang atau ilustrasi iklan.
7.Box/Panel ? keterangan khusus yang dibuat lebih menarik ditempatkan pada posisi yang strategis.
8.Slogan, Logotype dan signature ? sering dipakai sebagai main visual.
?Secara umum, desain iklan media cetak memiliki kriteria sbb:
1.Memuat nama dan logo atau brand name yang mudah dikenal/diinget.
2.Ada penonjolan visual, bisa berupa headline atau ilustrasi.
3.Mempermudah pembaca untuk merespon.
4.Ada ajakindan utk melakukan tindakan yang cukup menonjoldan mudah dibaca.
5.Ada pesan utama yg disampaikan secara jelas, sederhana, dan tidak berbelit belit.
6.Citra desain disesuaikan dg jenis produk atau perusahaan.
7.Memiliki ciri khas, berbeda dg iklan produk2 lainnyayg sejenis (pesaingnya).
?Ilustrasi berasal dari bahasa latin ilustrare yg artinya menerangi, menghias.
?Burton memberikan beberapa saran yang dapat anda lakukan saat ragu-ragu dalam menentukan ilutrasi, yaitu:
1.Figur manusia lebih menarik daripada benda.
2.Bayi dan hewan kesayangan secara umum mempunyai daya tarik cukup kuat.
3.Figure lelaki cenderung lebih menarik utk iklan produk-produk lelaki.
4.Kadang2 ilustrasi menggunakan huruf (all-type) bisa lebih efektif dari gambar terutama utk menyampaikan informasi tentang perkembangan penting atau utk mendramatisir produk baru.
5.Selebritis dapat menarik perhatian dg baik jika digunakan utk ilustrasi iklan produk yg sesuai.
?Perbedaan Iklan majalah dan Iklan surat kabar
•Iklan Majalah ?pada umumnya berukuran satu halaman majalah (sekitar A4) atau dua halaman berhadapan( kiri dan kanan), menggunakan jenis kertas bertekstur halus, dan berwarna.
•Iklan Surat kabar ?memiliki ukuran yang lebih bervariasi, bisa satu halaman penuh, ½ atau ¼ halaman atau hanya selebar 1 kolom. Dicetak diatas kertas Koran yg relative kasar dan menyerap tinta. Bisa full colour maupun black and white.
?Segmen pembaca Iklan Majalah dari beberapa aspek ? Demogratis (anak2, remaja, pria, dll), Geografi, Psikologis, Isi majalah, mis: majalah berita, majalah wanita dewasa, dll.
?Iklan Surat kabar memiliki beberapa karakteristik dan spesifikasi dlm merancang iklan, yaitu:
•Frekuensi terbit, umumnya terbit setiap hari (harian)
•Kelas ekonomi-sosial pembaca
•Peredaran nasional atau local
•Penekanan isi (ekonomi, criminal, agama, olahraga, atau umum)


BAB 6
DESAIN POSTER

Poster sebagai bentuk publikasi dua dimensional dan satu muka, digunakan untuk menyajikan informasi, data, jadwal, atau penawaran, dan untk mempromosikan orang, acara, tempat, produk, perusahaan, jasa atau organisasi. (Robin Landa)
Menurut John Gierla, perbedaan poster dg media cetak lainnya adalah:
-poster menyampaikan informasi pada pembaca yang sedang bergerak, sementara iklan majalah, brosur, katalog dll dirancang untuk pembaca yang memiliki waktu cukup, bisa dibaca sambil duduk, tiduran atau bediri alam waktu relative lama.
-Poster harus mampu membujuk pembaca, membangkitkan keinginan untuk membeli melalui pesan-pesan yg singkat, padat dan jelas.
-Fungsi poster yaitu menyampaikan pesan atau informasi secara cepat dan menyenangkan.
-Petunujuk dalam membuat Poster menurut Siebert dan Ballard, yaitu:
1.Ukuran huruf utk poster dibuat besar sehingga terbaca dari jarak jauh.
2.Layout dibuat simple, tidak membingungkan pembaca.
3.Masukan informasi penting yang dibutuhkan pembaca, seperti tanggal, jam, tempat, harga tiket CP, dll.
4.Ada satu elemen yg ditonjolkan (paling Dominan), baik judul ataupun ilustrasi, yg sekilas dapat menarik perhatian.
5.Memuat satu informasi paling penting dan ditonjolkan dg ukuran warna, atau value (kontras).
6.Memuat unsur seni yang sesuai dg pesan atau informasi.
7.Huruf dan elemen visual disusun dalam urutan yg logis.
8.Ilustrasi foto hendaknya dipilih yg tidak lazim (unusual) dan bila perlu di cropping agar lebih terlihat.
9.Huruf utk Poster sebainya tebal, dg warna2 kontras sehingga mudah terlihat dari kejauhan.

Menurut Landa, kriteria desain poster harus dikaitkan dg tujuan2 poster, yaitu:
1.Menyampaikan informasi secara jelas dan mudah dipahami
2.Menciptakan desain yang seketika dapat dibaca dan dipahami
3.Menciptakan desain yang mudah dibaca dari kejauhan
4.Menyajikan informasi penting yang dibutuhkan pembaca
5.Menyusun informasi dg urutan yg mudah diikuti
6.Menyusun elemen visual secara hierarki dan menyatu
7.Menyusun elemen2 poster berdasarkan prinsip2 desain grafis
8.Membuat desain yg sesuai dg subjek, audiens, dan lingkungannya.
9.Mengekspresikan spirit dan subjek atau pesan yg disampaikan.
?Desain poster yg efektif umumnya memiliki kriteria sebagai berikut:
•Mampu menarik perhatian
•Berhasil menyampaikan informasi secara cepat
•Mampu meyakinkan, memengaruhi dan membentuk opini
•Menggunakan warna2 yang mengesankan sederhana
•Sederhana
?Pedoman utk mengelola tipografi poster
1.Teks (informasi verbal) sebaikya disusun dari kiri ke kanan dan dari atas kebawah, bukaan sebaliknya.
2.Judul utama (headline) harus cukup besar, antara 100-150 point dan terbaca dari jarak sekitar 4 meter.
3.Pengguna huruf capital (all caps) utk judul dan teks akan lebih sulit dibaca.
4.Ukuran huruf utk Body text minimal 30-36 point
5.Tingkat kemudahan baca paling tinggi adalah teks warna hitam (gelap) di atas background warna terang.
6.Hindari judul yg terlalu panjang, ukuran font tidak kurang dari 24 point.
7.Secara keselurahan, tipografi untuk poster sebaiknya simple, mudah dibaca, menarik dan sesuai dg isi poster.

Fungsi Ilustrasi adalah utk memperjelas teks dan sekaligus sebagai eye-catcher.
Kriteria ilustrasi yg efektif sbb:
1.Komunikatif, informative, mudah dipahami.
2.Menggugah perasaan dan hasrat
3.Ide baru, orsinil, bukan merupakan plagiat
4.Memiliki daya pukau yang kuat.
5.Foto atau gambar memiliki kualitas baik.

Jurus2 Desain poster
Dua komponen desain poster, tipogrfi dan ilustrasi, perlu disusun berdasrkan prinsip2 desain. Kaidah2 desain ini sangat mudah dihafal, namun cukup sulit dipraktekan, yaitu:
1.Keseimbangan (balance) ? dapat dibangun mengguankan garis, warna, value, ukuran, bidang, dan tekstur. Keseimbangan dibagi dua, yaitu
•Keseimbangan simetris (formal) dilakukan dg membagi sama berat antara kiri dan kanan atau bagian atas dan bawah.
•Keseimbangan asimetris (informal) tidak perlu mambagi bidang secara simetris atau setara, tetapi anatara bagian kiri dan kanan, atas dan bawah, terasa seimbang.
2.Tekanan (emphasis) ? penonjolan salah satu elemen poster. Penekanan bisa pada ilustrasi, logo, judul, slogan atau elemen lainnya yang dianggap penting dan mendesak utk disampaikan. Penekanan elemen penting bisa diciptakan dg bebrapa cara, yaitu:
•Kontras antara background dg ilustrasi atau teks
•Kontras warna dan kontras value
•Kontras ukuran, jenis, warna dan style huruf
•Ilustrasi dibuat besar
•Menggunakan bidang kosong (white space) utk memunculkan elemen yg ingin dibaca pertama kali.
3.Irama (Rhythem) ? cara penyusunan elemen2 grafis dalam satu layout. Pada desain poster irama dapat berupa repetisi dan variasi. Repetisi adalah penyusunan elemen desain secara berulang-ulang (konsisten), Varisi adalah perulangan disertai perubahan bentuk, ukuran, warna, value, jarak dan posisi elemen desain.
4.Kesatuan (Unity) ? Terciptanya kesatuan dalam desain poster sangat diperlukan sehingga secara keseluruhan tampak selaras, harmonis dan nyaman dipandang. Elemen pemersatu bisa berupa warna, garis, jenis huruf, bentuk bidang dan sebagainya.
White space : bagian dari strategi untuk menciptakan kemudahan baca sekaligus membuat halaman tampak lebih menarik. (Mario R. Garcia).
Unsur white space dalam desain poster tidak hanya meningkatkan kemudahan baca (readability), tetapi juga menambah kenyamanan baca (legibility)
Karya Desainer poster : perpaduan natar ekspresi visual (seni rupa) dan verbal (bahasa) yg bertujuan menginformasikan, membujuk dan menjual suatu produk ataupun jasa. Secara umum ada dua tugas pentinng yg harus dilakukan oleh desainer poster, yaitu:
1.Menyampaikan pesan atau informasi kpda audience secara jelas
2.Menciptakan desain yg menarik dan mengesankan sehingga informasi yg disampaikan dpt menimbulkan hasrat atau membujuk target audiens.

Broadcasting



Media Informasi dan Broadcasting

Master Control Room (MCR) Televisi atau disebut juga ruang kendali siaran televisi merupakan ruangan yang berisikan perangkat teknis utama penyiaran dalam mengontrol segala proses siaran stasiun televisi. Master Control Room menjadi pusat dari segala kegiatan produksi siaran yang ada di stasiun penyiaran televisi. Master Control Room sangat penting karena semua materi siaran baik acara secara langsung (live) maupun rekaman di studio, atau kejadian yang langsung dari suatu lokasi di luar studio melalui OB Van atau mobil siaran, harus melalui Master Control Room (MCR) terlebih dahulu, sebelum akhirnya dipancarkan ke satelit. Materi siaran berupa iklan, logo stasiun televisi, program-program acara, running text dan sebagainya, semuanya telah disiapkan di Master Control Room untuk ditayangkan.
Master Control Room atau sistem kendali siar
Master Control Room (sistem kendali siar)

Pengertian Master Control Room
Bagian penyiaran atau broadcasting merupakan ujung dari produksi materi siaran seperti program acara, iklan, dan sebagainya. Master Control Room menjadi pusat kegiatan penyiaran, meliputi pengoperasian peralatan siaran televisi dan hal-hal non-teknis seperti pengaturan waktu tayang. Beberapa stasiun televisi menempatkan bagian penyiaran menjadi satu departemen tersendiri yang umum dikenal dengan Departement On Air Broadcast. Dalam departemen ini, terdapat bagian teknis (meliputi Master Control dan video tape recording (VTR) On Air), bagian non-teknis (meliputi traffic log dan presentasi). Seluruh materi siaran akan melalui Master Control Room dan kemudian menuju perangkat uplink untuk ditransmisikan melalui satelit dan ke stasiun relay di seluruh Indonesia.

Sistem Master Control Room Televisi Broadcast
Master Control Room menjadi pusat pengaturan semua tayangan program dan iklan. Master Control Room juga dapat dikatakan tempat pengontrolan keluar dan masuknya sumber. Terdapat tujuh bagian dalam sistem Master Control Room Televisi Broadcast.

Video Tape Recording (VTR) Material Room
Bagian ini merupakan tempat penyedian materi-materi program siaran yang berbentuk tape atau kaset siap tayang seperti sinetron, program non-drama. Video Tape Recorder berfungsi merekam dan melihat rekaman pada proses produksi, dapat juga digunakan untuk meng-capture (mengubah rekaman dari kaset pita ke digital). Format yang digunakan, antara lain VHS, S-VHS, dan MiniDV. Kaset-kaset tersebut di barcode atau dikomputerisasikan sehingga terdapat pembagian segmen untuk sebuah program acara. Kemudian setelah dibagi, di input ke Flexicart atau mesin pemutar materi program. Misalnya suatu program sinetron akan tayang pada tanggal 7 November pukul 7 malam, dengan durasi 64 menit dan akan dibagi menjadi lima segmen untuk Running File program tersebut. Selain membagi segmen program, bagian Video Tape Recorder juga menyuplai keperluan materi iklan. Apabila ada materi iklan yang tidak sesuai dengan format yang ada pada ruangan Video Tape Recorder, maka meteri kaset tersebut akan diubah menjadi materi yang siap tayang. Kebayakan stasiun televisi saat ini, sudah meminta perusahaan iklan yang ingin memasuki iklan, agar memasukkan format iklan yang sesuai.

Studio
Studio merupakan tempat untuk memproduksi dan menyuplai program-program stasiun televisi. Proses produksi di studio harus terkoneksi dengan Master Control Room. Ketika program acara diproduksi di studio, Master Control Room menjadi penting untuk mengatur jalannya produksi. Video dan audio akan dikirim ke Master Control Room. Produksi program di studio dapat secara live (langsung disiarkan ke pemirsa) misalnya program musik, olahraga, dan berita ataupun secara recording (program acara direkam terlebih dahulu atau dikenal dengan taping). Di dalam studio terdapat beberapa sistem yang terintegrasi yaitu audio (system mixer), video (system camera), pencahayaan (system lighting) dan seni (art design).
Siaran Langsung (Live Event)
Siaran langsung merupakan suatu proses produksi yang sesuai dengan kenyataan saat itu sehingga apa yang dilihat di televisi pemirsa merupakan gambaran nyata baik waktu maupun lokasi. Siaran langsung memiliki resiko kegagalan baik masalah teknis maupun operasional. Siaran langsung mempunyai slot waktu program yang sulit diprediksi ketepatan selesainya, sehingga seandainya acara langsung gagal, otomatis mengganggu runtutan acara berikutnya.

Presentasi
Presentasi merupakan pengendali utama sebuah siaran berlangsung. Bagian ini merupakan pengatur waktu baik kapan program acara on air (berupa live atau taping) maupun waktu iklan atau komersial akan ditayangkan. Selain itu, bagian presentasi juga bertugas mengatur naik atau turunnya logo televisi, running text. Sistem presentasi memiliki main switcher atau switcher utama yang saling terhubung dengan computer control switcher dan computer control superimpossed. Switcher merupakan alat untuk memilih satu gambar dari berbagai sumber untuk disiarkan atau direkam. Untuk sumber lainnya seperti logo, running text, bumper, dan sebagainya juga akan masuk ke main switcher.

Master Control Console
Bagian ini sebagai pemantau alur sinyal audio dan video. Master control console sebagai penyangga utama penyelenggaraan siaran, membagi sinyal input kebagian lain (studio, presentasi, transfer room), koordinasi utama saat siaran langsung.

Ruang Transfer (Transfer room)
Ruang transfer atau transfer room disebut juga sebagai bagian rekam atau recording. Bagian transfer memberikan input untuk materi siaran yang siap tayang. Bagian transfer dapat merekam materi live atau siaran tunda, merekam acara off air (hasil on air yang sudah ke masyarakat) guna keperluan saksi ke pemasang iklan (Broadcast On Air Whitness). Bagian transfer sebagai perekam materi acara yang belum berformat digital.

Transmisi Up-link
Ruang transmisi merupakan bagian yang menyiarkan sinyal-sinyal audio dan video ke masyarakat. Bagian ini berhubungan dengan frekuensi, daya pancar transmitter, gelombang pemancar, converage area pancaran stasiun televisi, perizinan alokasi frekuensi dengan departemen perhubungan dan lain-lain. Dalam penyiaran televisi, transmisi sebagai pemancar gelombang elektromagnetik dengan dua tipe, yaitu pola penyiaran tatap muka langsung (line off sight) dan pola satelit uplink dan downlink. Line off sight menggunakan gelombang pendek (microwave) yang biasanya untuk keperluan stasiun relay dalam kota (TX Site). Satelit uplink dan downlink menggunakan media satelite repeater untuk keperluan televisi daerah (TX Relay).

SDM Pada Master Control Room

Produser
Produser bertanggung jawab terhadap semua aktivitas pembuatan program. Untuk kebutuhan tertentu, terdapat sebuah komputer dengan system on line seperti New Q Pro yang terhubung langsung dengan teleprompter sehingga produser atau scripwritter dapat melakukan perubahan atau penambahan script yang muncul dan akan dibacakan oleh anchor. Sistem tersebut juga secara online dapat menghitung durasi per materi sehingga produser mendapat informasi yang akurat saat membatalkan (drop) atau menambah materi di dalam segmen agar sesuai dengan durasi dan kebutuhan.

Program Director (PD)
Program director bertanggung jawab terhadap teknis pelaksanaan dan melakukan pemilihan gambar dan suara sesuai rundown.

Pengoperasi Switcher (Switcherman)
Switcherman bertanggungjawab mengoperasikan mesin switcher.

Penata Aksara atau Character Generic (CG)
Penata aksara bertugas menampilkan teks berupa informasi seperti nama presenter, narasumber dan informasi lainnya.

Penata Suara (Audioman)
Penata Suara bertugas untuk memilih sumber suara yang akan dimunculkan. Suara atau audio tersebut berasal dari berbagai macam sumber, seperti : microphone di studio yang digunakan talent, peralatan musik, VTR, music player hingga audio yang disimpan di dalam komputer.

Pengoperasi VTR (VTRman)
Pengoperasi VTR bertugas memutar kaset video sesuai rundown dan melakukan perekaman.

Pegoperasi Virtual Set
Pengoperasi virtual set bertugas memunculkan latar belakang virtual yang sebelumnya telah dibuat oleh virtual set designer dan mengatur posisinya agar sesuai dengan locking kamera.

Hubungan Master Control Room ke Pemancar
Program siaran yang siap ditayangkan ke pemirsa dari Master Control Room disalurkan ke stasiun-stasiun pemancar pusat maupun relay. Penyaluran program siaran televisi dilakukan melalui transmission line, microwave, satellite.


Transmission line, menggunakan kabel koaksial atau serabut optik. Program dari Master Control Room disalurkan ke pemancar dalam satu komplek dengan jarak yang dekat.
Microwave, menggunakan frekuensi radio gelombang mikro. Program dari Master Control Room disalurkan ke pemancar dari lokasi yang berbeda dengan jarak yang cukup jauh. Transmisi microwave biasanya digunakan untuk live event dari lapangan ke studio, atau untuk backup dari studio ke stasiun relay terdekat.
Satellite, menggunakan frekuensi radio gelombang mikro. Program dari Master Control Room disalurkan lokasi yang berbeda dengan jarak yang sangat jauh. Satellite merupakan transmisi dari studio ke stasiun relay di seluruh Indonesia.

Transmisi Satelit
Transmisi satelit menjadi penting dalam penyiaran televisi. Ada dua terminal melengkapi sistem satelit, terminal pertama untuk mengirimkan signal transmisi ke satelit (uplink) dan terminal kedua mengurus penerimaan signal dari satelit (downlink) atau disebut juga TVRO (Television Receiving Only) yang dipakai di rumah-rumah, yakni antene parabola. Materi siaran dari MCR melalui uplink dikirimkan ke satelit. Kemudian signal diterima di satelit dan dikirimkan atau dipancarkan kembali (downlink) ke relay televisi tersebut.

Daftar Penggunaan Satelit TV Swasta Nasional Indonesia
Berikut daftar satelit yang digunakan televisi swasta nasional untuk pengiriman materi siaran dari Master Control Room stasiun televisi:

RCTI : Palapa D SES 7(Indovision) Telkom 1(TelkomVision)
SCTV : Palapa D SES 7 (Indovision) Telkom 1 (TelkomVision) Measat 3
Transtv : SES 7 (Indovision) Telkom 1 (TelkomVision)
Trans7 : SES 7 (Indovision) Telkom 1 (TelkomVision)
Antv: SES 7 (Indovision) Telkom 1 (TelkomVision)
Indosiar : Palapa D SES 7 (Indovision) Telkom 1 (TelkomVision)
TVOne: Palapa D SES 7 (Indovision) Telkom 1 (TelkomVision)
Metrotv: Palapa D SES 7 (Indovision) Telkom 1 (TelkomVision) Measat 3
Global TV : Palapa D SES 7 (Indovision) Telkom 1 (TelkomVision)
MNC TV: PalapaD SES 7 (Indovision)
Master Control Room adalah merupakan ujung dari produksi materi siaran seperti program acara, iklan, dan sebagainya. MCR menjadi pusat kegiatan penyiaran, meliputi pengoperasian peralatan siaran televisi dan hal-hal non-teknis seperti pengaturan waktu tayang.

Bagian-Bagian Master Control Room:
Video tape recorder (VTR)
Video Switcher
Audio Mixer
Caracteristics Generic (CG)
Studio

Sumber Daya Manusia Master Control Room
Produser
Program Directer
VTR man
AudioMan
Virtual set
Lingting man

sumber: Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Rangkuman Buku “Jurnalistik Indonesia"



Penulis:
Drs. A.S. Haris Sumadiria M.Si

I. Menyelami Jurnalistik Indonesia
A. Arti dan Definisi Jurnalsitik
1. Pengertian Jurnalistik
Secara etimologis, jurnalistik berasal dari kata journ. Dalam bahasa Prancis, journ berarti catatan atau laporan harian. Dalam kamus, jurnalsitik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis untuk surat kabar, majalah, atau berkala lainnya (Assegaff, 1983:9).
2. Definisi Jurnalistik
Secara teknis, jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya.
B. Bentuk Jurnalistik
1. Jurnalsitik Media Cetak
Jurnalistik media cetak dipengaruhi dua faktor, faktor verbal dan visual. Verbal, sangat menekankan pada kemampuan memilih dan menyusun kata dalam kalimat dan paragraf yang efektif dan komunikatif.
2. Jurnalistik Media Elektronik Auditif
Disebut juga jurnalistik radio siaran. Banyak dipengaruhi dimensi verbal, teknologikal, dan fisikal. Teknologikal, berkaitan dengan teknologi yang memungkinkan daya pancar radio dapat ditangkap dengan jelas dan jernih oleh pesawat radio penerima. Fisikal, erat kaitannya dengan kesehatan fisik dan kemampuan pendengar khalayak dalam menyerap dan mencerna setiap pesan.
3. Jurnalistik Media Elektronik Audiovisual
Disebut juga jurnalistik televise. Merupakan gabungan dari segi verbal, visual, teknologikal, dan dimensi gramatikal. Dramatikal, berarti bersinggungan dengan aspek serta nilai dramatic yang dihasilkan oleh rangkaian gambar.
C. Produk Jurnalistik
1. Tajuk Rencana : opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai suatu institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal, dan atau controversial yang berkembang dalam masyarakat.
2. Karikatural : secara etimologis, karikatur adalah gambar wajah dan karakteristik seseorang yang diekspresikan secara berlebih-lebihan,
3. Pojok : kutipan pernyataan singkat narasumber atau peristiwa tertentu yang dianggap menarik atau kontroversi.
4. Artikel : tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual atau controversial bertujuan untuk memberi tahu (informatif), memengaruhi dan meyakinkan (persuasif argumentatif), atau menghibur khalayak pembaca (rekreatif). Terdapat beberapa jenis artikel yaitu artikel praktis yang lebih banyak bersifat petunjuk praktis cara melakukan sesuatu; artikel ringan yang lazim ditemukan pada rubrik anak-anak, remaja, dan keluarga; artikel halaman opini yang lazim ditemukan pada halaman khusus opini bersama tulisan opini lain yakni tajuk rencana, karikatur, pojok, kolom, dan surat pembaca; artikel analisis ahli yang biasa ditemukan pada halaman muka, halaman-halaman berita, atau halaman rubrik-rubrik khusus tertentu.
5. Kolom : opini singkat seseorang yang lebih banyak menekankan aspek pengamatan dan pemaknaan terhadap persoalan yang terdapat dalam masyarakat.
6. Surat pembaca : opini singkat yang ditulis pembaca dan dimuat khusus pada rubrik khusus surat pembaca. Biasanya berisi komentar atau keluhan pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan dirinya.
D. Sekilas Perkembangan Jurnalistik
1. Kelahiran Wartawan Pertama
Dapat disebutkan bahwa wartawan-wartawan pertama lahir ketika zaman kepemimpinan Julius Caesar (100-44SM). Waktu itu sudah terdapat media bentukan pemerintah yaitu Acta senatus yang berisi hasil rapat senat dan Acta Diurna yang berisi hasil rapat rakyat dan berita lainnya. Para pemilik budak pada zaman itu menyuruh budaknya untuk mencari informasi tentang apapun sesuai keinginan majikannya yang nantinya dilaorkan dalam bentuk lisan maupun tulisan.
2. Jurnalistik di Eropa
Tidak terdapat data yang dapat menjelaskan secara pasti surat kabar dan siapa yang menerbitkannya unruk pertama kali. Tapi pada 1605 Abraham Verhoeven di Antwerpen mendapat izin untuk menerbitkan selebaran Nieuwe Tijdinghen. Pada 1617 selebaran ini sudah terbit teratur 8-9 hari sekali. Pada 1629 Nieuwe Tijdinghen berganti nama menjadi Wekelijkscje Tijdinghen.
Di Jerman pada 1609 telah terbit Avisa Relation Order Zeitung. Pada tahun yang sama juga terbit surat kabar Relation di Strassburg. Di Belanda surat kabar tertua bernama Courante Uyt Italien en Duytscland terbit pada 1618. Di Inggris surat kabar pertama bernama Curant of General News pada 1662. Di Prancis, pemerintah menerbitkan surat kabar Gassete de France pada 1631.
3. Zaman Penjajahan di Indonesia
Sejarah jurnalistik di Indonesia dimulai pada abad 18, tepatnya pada 1744 ketika Bataviasche Nouvelles diterbitkan oleh penjajah Belanda. Pada 1776 juga terbit Vendu Niews yang berisi tentang berita pelelangan, juga diterbitkan oleh Belanda sebagai penjajah Indonesia. Sedangkan surat kabar pertama sebagai bacaan orang pribumi ialah majalah Bianglala pada 1854 dan Bromartani pada 1885, keduanya di Weltevreden. Pada 1856 terbit Soerat Kabar Bahasa Melajoe di Surabaya.
Sejarah jurnalistik Indonesia pada abad 20 ditandai dengan munculnya Medan Prijaji yang didirikan oleh dan modal orang Indonesia, yaitu Tirtohadisuryo, untuk bangsa Indonesia. Mulanya pada 1907, surat kabar ini berbentuk dan baru pada 1910 berubah menjadi harian.
4. Dari Bulan Madu ke Gelap Gulita
Pers Indonesia yang pada era kemerdekaan 1945, menjadi pers yang berusaha dan berorientasi untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan berubah haluan menjadi pers partisan pada 1950. Pers pada saat itu hanya merupakan corong bagi partai politik, hanyut dalam dunia politik praktis.
Era pers partisan tidak berlangsung lama karena setelah Dekrit Presiden 1 Juli 1959, pers Indonesia memasuki masa gelap gulita. Setiap perusahaan penerbitan haris memiliki Surat Izin Terbit (SIT). Apalagi ketika setiap surat kabar harus menginduk pada organisasi pokitik atau organisasi massa. Hal ini membuat wartawan sulit untuk mengeluarkan pikirannya lewat media tempat ia bekerja. Wartawan harus mengikuti kebijakan redaksi yang menginduk pada suatu paham organisasi tertentu.
5. Kebebasan Jurnalistik Pasca 1965
Pada era setelah 1965 banyak terjadi perubahan. Perubahan ini disebabkan oleh tiga hal. Pertama, peristiwa-peristiwa tegang yang terjadi setelah G-30S. Kedua, kebebasan pers menjadi lebih leluasa dibanding dengan periode sebelumnya. Ketiga, barangkali juga embrio sikap profesionalisme dalam redaksi dan dalam pengelolaan bisnis berupa sirkulasi, iklan, serta pengelolaan keuangan (Oetama, 1987:26).
Konflik-konflik yang terjadi mendorong masyarakat untuk mencari informasi lewat pers. Kemudian terjadilah proses lahir dan didiskusikannya gagasan politik, ekonomi, budaya. Surutnya partai-partai membuat media massa tidak lagi berafiliasi dengan parpol. Kondisi ini membuat pers dapat menjadi media yang independen cenderung mengambil jarak dengan parpol yang pada akhirnya menjadi alat kontrol sosial.
Sistem ekonomi yang ditetapkan oleh pemerintah pada saat itu, yaitu sistem ekonomi yang merujuk pada sistem pasar internasional, turut mempengaruhi pertumbuhan pers Indonesia. Bagian substansial dari ekonomi pasar adalah persaingan produk, promosi, dan periklanan. Bisnis iklan dan mimbar promosi lewat iklan, berkembang, di antaranya adalah surat kabar. Surat kabar bermunculan akibat dari kondusifnya situasi untuk berbisnis surat kabar. Surat kabar berkembang menjadi sarana ekonomi dan dapat tumbuh dengan subur. Tetapi sebagai wahana ekspresi, peyalur pendapat umum, dan pengemban fungsi kontrol sosial, pers dihadapkan pada berbagai pembatasan dan tekanan dari pihak penguasa (pemerintah). Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan orde baru sangat represif ketika pers menyentuh bidang politik (kekuasaan) pemerintah. Ditandai dengan dibreidelnya mingguan Mahasiswa Indonesia di Bandung dan diikuti sebelas penerbitan pers umum (peristiwa Malari).
II. Ruang Lingkup Pers
Ruang lingkup pers mencakup media cetak dan media elektronik. Pers dalam arti luas disebut juga media massa.
A. Fungsi Utama Pers
1. Informasi (to inform) : menyampaikan informasi secepat-cepatnya kepada masyarakat seluas-luasnya.
2. Edukasi (to educate) : informasi yang disampaikan hendaknya dalam rangka mendidik.
3. Koreksi (to influence) : peran pers sebagai alat kontrol sosial.
4. Rekreasi (to entertain) : menghibur.
5. Mediasi (to mediate) : peran pers sebagai mediator/ penghubung antara informasi kepada masyarakat.
B. Karakteristik Pers
1. Periodesitas : harus terbit tepat waktu
2. Publisitas : harus ditujukan kepada khalayak yang heterogen
3. Aktualitas : informasi apapun yang disuguhkan harus mengandung unsur kebaruan. Secara teknis jurnalistik, aktualitas mengadung tiga dimensi: kalender, waktu dan masalah. Aktulitas kalender merujuk kepada peristiwa yang sudah tercantum pada kalender. Aktulitas waktu merujuk pada peristiwa yang baru, sedang, atau akan terjadi. Aktualitas masalah berhubungan dengan peristiwa yang jika dilihat topiknya, sifat, dimensi, dan dampaknya.
4. Universalitas : berkaitan dengan kesemestaan sumber dan materi media massa tersebut.
5. Objektifitas : nilai etika dan moral yang harus dipegang teguh oleh media massa dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.
C. Tipologi Pers
1. Pers Berkualitas : memilih cara penyajian yang etis, moralis, dan intelektual.
2. Pers Populer : memilih cara penyajian yang sesuai dengan selera zaman, cepat berubah-ubah, sederhana, tegas lugas, enak dipandang mata, sangat kompromistis dengan tuntutan pasar.
3. Pers Kuning : menggunakan pendekatan jurnalistik SCC (sex, conflict, crime)
D. Jenis dan Sirkulasi Pers
1. Pers Komunitas : dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan khalayak pembaca yang berada dalam satu lingkungan, misalnya suatu organisasi, perusahaan, wilayah.
2. Pers Lokal : hanya beredar di sebuah kota dan sekitarnya. Kebijakan redaksionalnya bertumpu pada pengembangan dimensi kedekatan geografis dan kedekatan psikologis.
3. Pers Regional : berkedudukan di ibukota provinsi. Sirkulasinya meliputi seluruh kota yang terdapat dalam provinsi itu.
4. Pers nasional : kebanyakan berkedudukan di ibukota Negara. Wilayah sirkulasinya meliputi seluruh wilayah yang terjangkau aleh sarana transportasi. Kebijakan redaksionalnya lebih banyak menekankan masalah, isu, aspirasi, tuntutan dan kepentingan nasional.
5. Pers Internasional : hadir di sejumlah negara dengan menggunakan teknologi sistem cetak jarak jauhdengan pola pengembangan zona atau wilayah.
E. Pilar Penyangga Pers
1. Idealisme : cita-cita, obsesi, sesuatu yang terus dikejar untuk bisa dijangkau dengan segala daya menurut etika dan norma profesi yang berlaku serta diakui oleh masyarakat dan negara.
2. Komersialisme : media massa harus berorientasi juga pada kepentingan komersialisme agar memiliki kekuatan untuk terus mejalankan idealisme.
3. Profesionalisme : tujuan dan aspirasi professional adalah kesetiannya pada bidang tugas. Profesional melayani masyarakat, memiliki kepedulian terhadap bidangnya, memiliki otonomi, mengatur dirinya sendiri
F. Landasan Pers Nasional
1. Landasan Idiil : Pancasila sebagai ideologi negara.
2. Landasan Konstitusional : UUD 1945 sebagai landasan konstitusional negara.
3. Landasan Yuridis Formal : UU Pokok Pers No. 40/ 1999 untuk pers dan UU Pokok Penyiaran No. 32/ 2002 untuk media radio siaran dan televisi.
4. Landasan Strategis Operasional : mengacu pada kebijakan redaksional masing-masing institusi pers.
5. Landasan Sosiologis Kultural : berpijak pada nilai dan norma sosial budaya agama yang berlaku pada dan sekaligus dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.
6. Landasan Etis Profesional : menginduk pada kode etik profesi.
G. Bahasa Jurnalistik Pers
1. Sederhana
2. Singkat
3. Padat
4. Lugas
5. Jelas
6. Jernih
7. Menarik
8. Demokratis
9. Mengutamakan kalimat aktif
10. Menghindari kata atau istilah teknis
11. Tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku.
III. Klasifikasi, Jenis, dan Nilai Berita
A. Definisi Berita
v Paul Des Massener dalam Here’s The News: Unesco Associate menyatakan bahwa news adalah sebuah informasi yang penting dan menarik perhatian serta minat khalayak
v Doug Newsom dan James A. Wollert dalam Media Writing News for the Mass Media: berita adalah apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat.
v Williard C. Bleyer dalam Newspaper Writing and Editing: berita adalah sesuatu yang termasa yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabat, karena dia menarik minat atau memunyai makna bagi pembaca surat kabar, atau karena dia dapat menarik pembaca untuk membaca berita tersebut
v William S. Maulby dalam Getting the News: berita bisa didefiniskan sebagai suatau penuturan secara benar dan tak memihak dari fakta-fakta yang memunyai arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian para pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut.
B. Klasifikasi Berita
Dapat dikelompokkan menjadi dua kategori. Berita berat (hardnews)dan berita ringan (softnews). Berdasarkan lokasi peristiwanya, berita dibagi dua, ditempat terbuka atau tempat tertutup. Berdasarkan sifatnya berita dibagi dua, berita diduga dan berita tak terduga.
C. Jenis-jenis Berita
Berita berdasarkan jenisnya dibagi menjadi tiga kelompok yaitu elementary, intermediate, advance. Berita elementary mencakup berita langsung (straight news), berita mendalam (depth news report), dan berita menyeluruh (comprehensive news report). Berita intermediate meliputi pelaporan berita interpretatif (interpretatif news report) dan pelaporan karangan khasc(feature story report). Sedangkan untuk kelompok advance merujuk pada pelaporan mendalam (depth reporting), pelaporan penyelidikan (investigative reporting), dan penulisan tajuk rencana (editorial writing).
D. Konsep Berita
Menurut George Fox Mott dalam New Survey of Journalism (1958), terdapat delapan konsep berita :
1. Berita sebagai laporan tercepat
2. Berita sebagai rekaman
3. Berita sebagai fakta objektif
4. Berita sebagai interpretasi
5. Berita sebagai sensasi
6. Berita sebagai minat insani
7. Berita sebagai ramalan
8. Berita sebagai gambar.
E. Kriteria Umum Nilai Berita
1. Keluarbiasaan (unusualness)
2. Kebaruan (newness)
3. Akibat (impact)
4. Aktual (timelines)
5. Kedekatan (proximity)
6. Informasi (information)
7. Konflik (conflict)
8. Orang penting (prominence)
9. Ketertarikan manusiawi (human interest)
10. Kejutan (surprising)
11. Sex (sex)
IV. Mencari, Meliput, dan Menulis Berita
A. Bagaimana Berita Diperoleh?
1. Berita Diduga Melalui Meeting
Rapat proyeksi diselenggarakan secar rutin, berpijak pada tiga asumsi :
1. Berita diduga yang baik hanya bisa diperoleh melalui persiapan yang baik.
2. Masyarakat kita semakin dinamis dan kritis sebagai dampak langsung bergulirnya era reformasi.
3. Media massa sebagai industri jasa komunikasi dan informasi, kini dihadapkan pada pola persaingan ketat.
2. Berita Tak Diduga Melalui Hunting
B. Mengenali Sumber berita
1. Sumber Berita Berdasarkan Sifatnya
Berdasarkan sifatnya, sumber berita dibagi dua, sumber berita resmi dan tidak resmi. Sumber berita resmi berasal dari pusat kegiatan pemerintahan. Sumber berita tidak resmi diperoleh dari anggota masyarakat, para ilmuwan, peneliti lapangan.
2. Sumber Berita Berdasar Materi Isinya
Menurut Errol Jonathan, berdasarkan materi isinya, sumber berita dklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar :
1. paper trail, bahan yang tertulis atau tercetak berupa press release, makalah, dan dokumen.
2. electronic trail, sumber dari perangkat elektronik semacam internet.
3. people trail, orang sebagai narasumber.
3. Saran Praktis Miller
1. Gunakan alat tulis di atas buku catatan kecil
2. Tulislah poin-poin yang memang susah diingat
3. Fokuskan perhatian pada apa yang sedang dibicarakan oleh sumber berita
4. Jika sumber berita itu hadir dan menyaksikan bagaimana wartawan membuat catatan, buatlah catatan yang to the point
5. Asah keterampilan membuat catatan
4. Kedudukan dan Kredibilitas Sumber Berita
Masalah sumber berita diatur dalam KEJ pasal 5 :
1. Wartawan Indonesia menghargai dan melindungi sumber berita yang tidak bersedia disebutkan namanya.
2. Keterangan yang diberikan secara off the record tidak disiarkan, kecuali apa bila wartawan yang bersangkutan secara nyata-nyata dapat membuktikan bahwa ia sebelumnya memiliki keterangan yang kemudian diberikan secara off the record.
3. Wartawan Indonesia dengan jujur menyebut sumbernya dalam mengutip berita, gambar, tulisan dari suatu penerbitan pers.
4. Dilarang menerima imbalan dari suatu pemberitaan.
C. Teknik Wawancara Berita
Wawancara berita adalah kegiatan tanya jawab yang dilakukan repeorter atau wartawan dengan narasumber untuk memperoleh informasi penting dan menarik.
1. Persyaratan Wawancara Berita :
1. Memiliki tujuan yang jelas.
2. Efisien
3. Menyenagkan
4. Mengandalkan persiapan dan riset awal
5. Melibatkan khalayak
6. Menimbulkan spontanitas
7. Pewawancara sevagai pengendali
8. Mengembangkan logika
2. Jenis-jenis Wawancara Berita :
1. Wawancara sosok pribadi (personal interview)
2. Wawancara berita (news interview)
3. Wawancara jalanan (man on the street interview)
4. Wawancara sambil lalu (casual interview)
5. Wawancara telepon (telephone interview)
6. Wawancara tertulis (written imnterview)
7. Wawancara kelompok (discussion interview)
3. Hal yang Harus Diperhatikan Selama Wawancara
1. Menjaga suasana
2. Bersikap wajar
3. Memelihara situasi
4. Tangkas dalam menarik kesimpulan
5. Menjaga pokok persoalan
6. Kritis
7. Sopan santun
4. Jenis-jenis Pertanyaan dalam Wawancara Berita
1. Pertanyaan terbuka : pertanyaan yang menghendaki jawaban yang luas dan bebas.
2. Pertanyaan hipotetik terbuka : hamper mirip dengan pertanyaan terbuka, yang membedakan hanya struktur pertanyaannya.
3. Pertanyaan langsung : menghendaki jawaban singkat, ya atau tidak.
4. Pertanyaan tertutup : membatasi ruang gerak penjawab, bahkan jawaban telah tersedia.
5. Pertanyaan beban : pertanyaan yang menimbulkan beban bagi penjawab disebabkan tidak ada jawaban benar, tetapi menuntut emosional.
6. Pertanyaan terpimpin : pertanyaan yang diikuti dengan arahan jawaban.
7. Pertanyaan orang ketiga : pertanyaan diajukan seolah-olah merupakan pertanyaan dari orang ketiga.
5. Tujuan Wawancara Berita
Menurut Jonathan, wawancara berdasarkan tujuan dapat dibedakan atas :
1. Wawancara faktual (the factual interview) : dilakukan untuk menggali, mencari, dan mengumpulkan fakta-fakta.
2. Wawancara riset pendapat (the opinion research interview) : untuk mengetahui apa yang sebenarnya menjadi perhatian, pemikiran, pendapat narasumber.
3. Wawancara penegasan kredibilitas narasumber (a well known personality interview) : wawancara pakar untuk menguji kesahihan informasi yang berkembang dalam masyarakat.
D. Teknis Menulis Berita
1. Pola Penulisan Piramida Terbalik
Pesan berita disusun secara deduktif. Kesimpulan dinyatakan lebih dulu pada paragraf pertama.
2. Berita Ditulis dengan Rumus 5W+1H
Setiap peristiwa yang dilaporkan harus memiliki unsur apa (what), siapa (who), kapan (when), di mana (where), mengapa (why), dan bagaimana (how).
3. Pedoman Penulisan Teras
1. Teras berita yang menempati alinea pertama harus mencerminkan pokok terpenting berita.
2. Jangan mengandung lebih dari antara 30 dan 45 kata.
3. Harus ditulis dengan baik sehingga mudah dimengerti, kalimat-kalimatnya singkat sederhana, jelas melaksanakan ketentuan satu gagasan dalam satu berita.
4. Hal-hal yang tidak begitu mendesak, namun berfungsi sebagai penambah.
5. Mengutamakan unsur apa.
6. Dapat juga dimulai dengan unsur siapa.
7. Teras berita jarang menggunakan unsur bilamana pada permulaannya.
E. Syarat Judul Berita
Judul adalah identitas berita. Judul juga pemicu daya tarik pertama bagi pembaca. Judul berita yang baik harus memenuhi tujuh syarat :
1. Provokatif : judul yang dibuat harus mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak.
2. Singkat dan padat : mewakili isi berita. Ada dua alasan mengapa penulisan judul sangat singkat. Pertama, karena keterbatasan tempat.Kedua, keterbatasan waktu pembaca.
3. Relevan : berkaitan dengan pokok susunan pesan terpenting yang ingin disampaikan.
4. Fungsional : setiap kata yang terdapat pada judul bersifat mandiri dan memiliki arti yang tegas dan jelas.
5. Formal : berarti resmi, langsung pada pokok permasalahan, menghindari basa-basi.
6. Representatif: mencerminkan teras berita.
7. Merujuk pada bahasa baku : media massa dituntut untuk memberi contoh yang baik karena salah satu fungsi media massa yaitu to educate.
8. Spesifik : jangan gunakan kata-kata umum. Makin umum, makin kabur gambarannya dalam angan-angan. Sebaliknya, makin khusus, makin jelas (Soedjito, 1988:5-6).
F. Fungsi Teras Berita
Teras adalah paragraf pertama yang memuat fakta atau informasi terpenting dari keseluruhan uraian berita. Teras berita memiliki empat fungsi :
1. Atraktif : arus dapat membangkitkan minat pembaca terhadap topik yang dilaporkan.
2. Introduktif : harus mampu mengantar pembaca kepada pokok persoalan. Maka dari itu teras berisi harus berisi rumus 5W 1H.
3. Korelatif : kalimat dalam teras harus dapat menjadi penghubung dengan bagian selanjutnya dari berita, yaitu bagian perangkai dan tubuh.
4. Kredibilitas : kredibilitas seorang wartawan akan tampak pada tulisan pada teras beritanya.
G. Jenis-jenis Teras Berita
1. Who Lead(Teras Berita Siapa) : unsur who dipilih dengan pertimbangan unsur siapa memiliki nilai berita yang lebih besar.
2. What Lead (Teras berita apa) : memiliki nilai berita yang jauh lebih tinggi daripada unsur-unsur yang lain.
3. When Lead (Teras Berita kapan) : dipilih dengan pertimbangan unsur waktu peristiwa.
4. Where Lead (Teras Berita Dimana) : dipilih dengan pertimbangan unsur tempat peristiwa.
5. Why Lead(Teras Berita Mengapa) : dipilih dengan pertimbangan unsur mengapa peristiwa itu dapat terjadi.
6. How Lead(Teras Berita Bagaimana) : dipilih dengan pertimbangan unsur bagaimana suatu peristiwa dapat terjadi.
7. Contrast Lead(Teras berita Kontras) : dipilih dengan pertimbangan unsur sesuatu yang berlawanan pada subjek pelaku peristiwa memiliki nilai berita yang jauh lebih besar dibanding dengan unsur yang lain.
8. Quotation Lead(Teras Berita Kutipan) : dipilih dengan pertimbangan unsur perkataan langsung yang dilontarkan oleh narasumber atau pelaku peristiwa memiliki nilai berita yang jauh lebih besar dibanding dengan unsur yang lain.
9. Question Lead(Teras Berita Pertanyaan) : pertanyaan yang dilontarkan narasumber diyakini memiliki nilai berita yang tinggi.
10. Descriptive Lead(Teras Berita Pemaparan) : teras berita pemaparan dipilih dengan pertimbangan unsur suasana yang melekat dalam suatu peristiwa memiliki nilai berita yang jauh lebih besar dibanding dengan unsur yang lain.
11. Narative Lead(Teras berita Bercerita) : teras berita bercerita dipilih dengan pertimbangan unsur realitas cerita yang terdapat dalam suatu peristiwa memiliki nilai berita yang jauh lebih besar dibanding dengan unsur yang lain.
12. Exclamation Lead(Teras Berita Menjerit) : teras berita menjerit dipilih dengan pertimbangan unsur yang dilontarkan oleh narasumber peristiwa memiliki nilai berita yang jauh lebih besar dibanding dengan unsur yang lain.
V. Feature: Jurnalistik Sastra
A. Arti dan Definisi Feature
1. Pengertian Feature
Secara sederhana, feature adalah cerita atau karangan khas yang berpijak pada data dan fakta yang diperoleh melalui proses jurnalistik.
v Mc.Kinney, feature adalah suatu tulisan yang berada di luar tulisan yang bersifat berita langsung. Dalam tulisan ini pegangan 5W 1H dapat diabaikan.
v Wolseley dan Campbell dalam Exploring Journalism (1957) memasukkan feature pada surat kabar ke dalam segi hiburan.
2. Definisi Feature
v Feature adalah cerita khas kretif yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan tujuan untuk memberi informasi sekaligus menghibur khalayak media massa.
v Jullian Harris dalam The Complete Reporter (1985), secara umum arti kata feature meliputi suatu daftar panjang mulai dari komik sampai daftar panjang yang disebut kolom, yang tidak digolongkan dalam berita lempang.
v Richard Weiner dalam Webster’s New World Dictionary of Media and Communication (1990), feature adalah suatu karangan yang lebih ringan atau lebih umum tentang daya pikat manusiawi atau gaya hidup daripada berita lempang yang ditulis dari peristiwa yang masih hangat.
v Daniel R. Williamson dalam Feature Writing for Newspaper (1975), feature adalah artikel yang kreatif, kadang subjektif, yang dirancang terutama untuk menghibur dan memberi tahu pembaca tentang peristiwa.
C. Kedudukan dan Fungsi Feature
1. Kedudukan Feature
Kedudukan feature sangat penting dalam media massa. Bagi surat kabar yang dikelola secara professional, kedudukan feature sebagai salah satu bentuk karya jurnalistik sastra, tidak hanya untuk memenuhi aspek kesemestaan media massa semata. Lebih dari itu, feature sekaligus juga diharapkan dapat meningkatkan citra media di mata khalayak.
2. Fungsi feature
1. Sebagai pelengkap sekaligus variasi sajian berita langsung (straight news).
2. Pemberi informasi tentang suatu situasi, keadaan, atau peristiwa yang terjadi.
3. Penghibur atau sarana rekreasi dan pengembangan imjinasi yang menyenangkan.
4. Wahana pemberi nilai dan makna terhadap suatu keadaan.
5. Sarana ekspresi yang paling efektif dalam mempengaruhi khalayak.
D. Jenis-jenis Feature
Menurut Wolseley dan Campbell dalam Exploring Journalism, paling tidak terdapat enam jenis feature :
1. Feature minat insani : dimaksudkan untuk mengaduk-aduk perasaan, suasana, hati, dan bahkan menguras air mata khalayak.
2. Feature Sejarah (Hystorical feature) : berusaha untuk melakukan rekonstruksi peristiwa tidak saja dari sisi fakta benda-benda tapi juga mencakup aspek manusiawinyayang selalu mengundang daaya simpati dan empati khalayak.
3. Feature biografi (Biografiocal feature) : feature biografi atau tentang riwayat hidup seseorang terutama kalangan tokoh seperti pemimpin negara dan masyarakat atau mereka yang selalu mengabdikan hidupnya untuk negara, bangsa, atau sesuatu yang bemanfaat bagi peradaban umta manusia.
4. Feature perjalanan (Travelogue feature) :feature yang mengajak pembaca, pendengar, atau pemirsa untuk mngenali lebih dekat tentang suatu kegiatan atau tempat-tempat yang dinilai memiliki daya tarik tertentu.
5. Feature petunjuk praktis (How to do feature) :feature yang mengajarkan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
6. Feature ilmiah (Scientific feature) : feature yang mengungkap sesuatu yang berkaitan dengan dunia ilmu pengetahuan.
E. Feature : Junalistik Sastra
1. Cerpen, Sastra, Cerpen Hiburan, Feature
Cerpen menurut, menurut sastrawam Jakob sumardjo, dapat dibedakan antara cerpen hiburan dan cerpen serius atau cerpen sastra. Cerpen hiburan cenderung tidak realistis karena hanya menjual mimpi-mimpi hidup. Sedangkan cerpen sastra atau cerpen serius lebih mengengkat persoalan sehari-hari dengan metode penulisan berkualitas yang mengandung sisi moral, filsafat. Cerpen berasal dari realitas fiktif imajinasional dan feature sebagai realitas objektif faktual. Keduanya memang berpijak pada dunia narasi. Tapi terdapat koridor masing-masing yang menjadi pembatas wilayahnya. Salah satu hal yang harus disepakati, cerpen sastra dan cerita feature menyandang predikat sama: sastra. Untuk lebih jelasnya, feature adalah salah satu bentuk karya jurnalistik sastra.
2. Karakteristik Jurnalistik Sastra
Di Amerika pada awal 1960-an lahir dan tumbuh jurnalisme baru. Pada dasarnya, penganut aliran jurnalisme baru menolak berbagai paham dan kinerja yang sudah lama dikembangkan jurnalisme konvensional. Mengutip kalangan akademisi Amerika, secara umum hasil kerja para jurnalis baru itu itu dapat didefinisikan dalam empat bentuk pengembangan :
1. Menggambarkan kegiatan jurnalistik yang bertujuan untuk menciptakan opini publik dengan penekanan pada objektifitas pers demi bekerjanya fungsi watchdog.
2. Memetakan upaya jurnalisme yang mengkhususkan target pembacanya dengan model penerbitan jurnal-jurnal kecil yang memuat materi khusus berdasarkan profesi atau kebutuhan tertentu sekelompok masyarakat.
3. Menggunakan metode ilmiah dan teknik reportase dan mengadopsi langkah-langkah penelitian yang disyaratkan oleh dunia akademis ke dalam teknik pencarian berita.
4. Membuat sajian berita yang sejenis dengan kreasi sastra.
Fadler sebagai komunikolog, mencatat fenomena tersebut. Berdasarkan pengamatannya itu, Fadler membagi jurnalisme baru dalam empat pengertian :
1. Advocacy journalism : kegiatan jurnalistik yang berupaya menyuntikkan opini ke dalam berita.
2. Alternative journalism : merupakan kegiatan jurnalistik yang menyangkut publikasi internal dan lebih bersifat personal.
3. Precision journalism : kegiatan jurnalistik yang menekankan ketepatan informasi dengan memakai pendekatan ilmu sosial dalam proses kerjanya.
4. Literacy journalism : membahas pemakaian gaya penulisan fiksi untuk kepentingan dramatisasi pelaporan dan membuat artikel jadi memikat.
G. Norma-norma Jurnalistik Sastra
1. Riset mendalam dan melibatkan diri dengan subjek.
2. Jujur kepada pembaca dan sumber berita.
3. Fokus peda peristiwa-peristiwa rutin.
4. Menyajikan tulisan yang akrab-informal-manusiawi.
5. Gaya penulisan yang sederhana dan memikat.
6. Sudut pandang yang langsung menyapa pembaca.
7. Menggabungkan naratif primer dan naratif simpangan.
8. Menanggapi reaksi sekuensial pembaca.
VI. Teknik Menulis Cerita Feature
A. Empat Ciri Utama Cerita Feature
Jurnalisme sastra menekankan pada penceritaan pasda pelaporan berita. Dengan teknik berkisah maka laporan yang dibuat dapat disimak khalayak secara informatif dan imajinatif. Karena sifatnya yang imajinatif maka pembaca seakan merasakan kata demi kata yang tertulis pada laporan tersebut. Maka teknik berkisah tersebut dibangun berdasarkan unsur-unsur :
1. Penyusunan adegan : laporan disusun menggunakan teknik bercerita adegan demi adegan.
2. Dialog : berita disampaikan melalui dialog antara si pelaku dalam peristiwa yang dilaporkan melalui tulisan feature tersebut.
3. Sudut pandang orang ketiga : melalui alat ini, pembaca disuguhi setiap suasana peristiwa-peristiwa melalui pandangan mata seorang tokoh yang sengaja dimunculkan.
4. Mencatat detail : mencatat semua detail yang berhubungan dengan peristiwa. Contohnya : perilaku, adat istiadat, gaya hidup, dekorasi rumah, hubungan sosial, dan lainnya.
B. Unsur-unsur Pokok Dalam Cerita Feature
Sebagai sebuah cerita, feature dibangun dengan berpijak kepada beberapa unsur pokok :
1. Tema : ide cerita. Ide yang muncul berasal dari peristiwa yang sifatnya faktual dan aktual.
2. Sudut pandang : sudut pandang yang dipilih pengarang untuk melihat suatu kejadian. Terdapat empat sudut pandang yang asasi menurut Jakob Sumardjo, yaitu sudut pandang yang berkuasa, sudut pandang objektif, sudut pandang orang pertama, dan sudut pandang peninjau.
3. Plot :
4. Karakter : dalam dunia penulisan bergaya berkisah, tokohlah yang dapat menghidupkan cerita tersebut.
5. Gaya : cara khas seorang penulis feature menuliskan feature tersebut.
6. Suasana : dalam bercerita, suasana sangat dibutuhkan untuk menghidupkan cerita.
7. Lokasi Peristiwa : menunjukkan tempat kejadia dan kapan terjadinya. Bukan hanya background.
C.Nilai Pesan Moral Cerita Feature
Setiap cerita feature harus dapat membawa atau melahirkan pesan moral tertentu. Dari pesan moral itu, kahlayak dapat menrik pelajaran berharga mengenai kehidupan. Pesan moral feature disampaikan melalui dua cara. Pertama, dinyatakan secara tersurat melalui penuturan reporter secara langsung (manisfest message). Kedua, dinyatakan secara tersirat melalui jalan cerita, tokoh, karakter, plot, suasana, dan setting.
D. Anatomi Cerita Feature
Susunan bangunan cerita feature terdiri atas judul, intro, perangkai, tubuh, penutup. Bagian penceritaan disebut tubuh cerita. Pada bagian inilah cerita dikembangkan. Bagian penutup lazim disebut juga klimaks.
E. Topik dan Kriteia Topik Feature
1. Arti dan Contoh Topik Feature
Secara sederhana, topik adalah pokok bahasan. Secara teknis topik diartikan sebagai pernyataan isi pokok bahasan yang sudah dibatasi lingkupnya secara spesifik. Dalam penulisan cerita feature topik sebaiknya dirumuskan dalam satu kalimat utuh denga syarat kalimat itu tidak menyimpulkan, hanya memaparkan.
2. Kriteria Topik Cerita Topik
1.Topik feature merujuk kepada berita yang sedang berkembang, aktual, dan faktual.
2. topik feature sejalan dengan kualifikasi jenis, fokus, wilayah sirkulasi media yang akan memuatnya.
3.Topik feature sesuai dengan filosofi, visi, misi, dan kebijakan media penerbitan
4. Topik feature berpijak pada kaidah dan etika dasar jurnalistik seperti objektifitas, bobot, dan nilai.
5.Topik feature tidak bertentangan dengan aspek ideologis, aspek yuridis, aspek sosilogis, dan aspek etis yang terdapat dalam suatu masyarakat
6.Topik feature senantiasa berorientasi pada nilai-nilai luhur peradaban universal seperti kemanusiaan.
F. Judul Cerita Feature
1.Provokatif : judul yang dibuat harus mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak.
2. Singkat dan padat : mewakili isi berita. Ada dua alasan mengapa penulisan judul sangat singkat. Pertama, karena keterbatasan tempat.Kedua, keterbatasan waktu pembaca.
3. Relevan : berkaitan dengan pokok susunan pesan terpenting yang ingin disampaikan.
4. Fungsional : setiap kata yang terdapat pada judul bersifat mandiri dan memiliki arti yang tegas dan jelas.
5. Formal : berarti resmi, langsung pada pokok permasalahan, menghindari basa-basi.
6. Representatif: mencerminkan teras berita.
7. Merujuk pada bahasa baku : media massa dituntut untuk memberi contoh yang baik karena salah satu fungsi media massa yaitu to educate.
8. Spesifik : jangan gunakan kata-kata umum. Makin umum, makin kabur gambarannya dalam angan-angan. Sebaliknya, makin khusus, makin jelas.
G. Arti dan Fungsi Intro Feature
1. Arti dan Fungsi Intro Feature
Intro pada feature yaitu paragraf pertama. Fungsi intro terutama pemicu perhatian khalayak sekaligus sebagai pintu masuk ke dalam bangunan cerita.
2. Pedoman Penulisan Intro Feature
a. Tulislah ringkas. Jangan obral kata-kata.
b. Tulislah alinea secara ringkas.
c. Gunakan kata-kata aktif
H. Jenis-jenis Intro Cerita Feature
1. Intro ringkasan
2. Intro bercerita
3. Intro deskriptif
4. Intro kutipan
5. Intro pertanyaan
6. Intro menuding langsung
7. Intro penggoda
8. Intro unik
9. Intro gabungan
10. Intro kontras
11. Intro dialog
12. Intro menjerit
13. Intro statistik
I. Teknik Menutup Cerita Feature
1 Penutup Ringkasan
2 Penutup penyengat
3 Penutup klimaks
4 Penutup menggantung
5 Penutup ajakan bertindak